Kursi yang Bikin Gue Kena Mental di Jepang
- HP Music
- 23 Okt 2025
- 3 menit membaca
Mengapa anak muda di Jepang umumnya membiarkan orang lanjut usia berdiri di transportasi umum dan tidak diberi tempat duduk?

Tokyo sore itu padat tapi tertib. Suara lonceng penyeberangan jalan, aroma kopi dari kios kecil, denting mesin tiket, dan langkah kaki puluhan orang berpadu seperti simfoni urban. Kereta Yamanote masuk, pintu terbuka, penumpang masuk dan keluar rapi. Semua terlihat… sempurna. Jepang banget.
Tapi mata gue langsung nempel pada satu pemandangan yang bikin darah gue mendidih. Seorang nenek masuk, tubuhnya kurus, gemetar, jelas lelah. Di kursi prioritas, seorang pemuda duduk santai, matanya asyik menatap ponsel.
Dalam hati gue meledak: Astaga, ini nggak sopan! Orang tua berdiri, anak muda cuek aja!
Di kepala gue, terdengar bisikan melodi lembut, seperti intro lagu yang menenangkan tapi introspektif. Dan entah kenapa, kata-kata itu muncul di kepala gue:
“Terlalu banyak sama di antara kita, tapi sayang tak bisa bersama…”
Seperti lagu yang jadi soundtrack internal, gue merasa terprovokasi sekaligus tersentuh—hal-hal yang terlihat sederhana kadang mengandung jarak budaya yang dalam.
Beberapa stasiun kemudian, nenek turun. Tapi drama belum selesai. Seorang ibu paruh baya masuk, rambut mulai memutih, wajah tegas tapi lelah, langkah mantap tapi tetap butuh perhatian. Gue berdiri, senyum sopan, dan bilang,“Silakan duduk, Bu.”
Reaksinya? Sebuah senyum tipis dan kalimat pelan:
“Oh… berarti saya sudah tua, ya?”
Bam. Mental gue langsung jeblok. Gue cuma bisa berdiri bego, merasa salah langkah. Di kepala gue, terdengar potongan melodi lain, seperti langkah napas kereta yang ritmis, kadang lembut, kadang menahan, memaksa gue untuk berhenti menilai secara instan.
Beberapa hari kemudian gue cerita ke teman orang Jepang. Dia tersenyum kecil, lalu menjelaskan:“Di sini, banyak orang tua nggak mau dikasih kursi begitu aja.
Itu bisa bikin mereka merasa lemah atau merepotkan orang lain.
Ada konsep budaya enryo—menahan diri supaya nggak membebani orang lain.
Mereka belajar sejak kecil bahwa menjaga harga diri dan mandiri itu lebih penting daripada terlihat ‘kasihan’ atau ‘tua’. Jadi ketika pemuda itu nggak langsung menawarkan kursi, dia sebenarnya sedang menghormati pilihan mereka—memberi ruang untuk mereka tetap berdiri dengan martabat.”
Gue akhirnya ngerti. Pemuda yang gue kira egois ternyata sedang melakukan hal paling hormat yang bisa dilakukan: menjaga martabat orang lain tanpa membuatnya merasa lemah. Semua pemandangan yang sebelumnya bikin gue kesel sekarang terasa lembut, nyaris menyentuh pelipis mata gue.
Secara ilmiah, fenomena ini bisa dijelaskan lewat psikologi sosial: penelitian tentang perceived burden menunjukkan bahwa orang tua sering menolak bantuan karena takut menjadi beban. Memberi perhatian tanpa memperhatikan persepsi ini kadang justru menimbulkan stres psikologis.
Budaya enryo Jepang sejalan dengan prinsip ini: hormat kadang bukan soal memberi, tapi soal tidak membuat orang lain kehilangan rasa dirinya.
Di gerbong itu, suara internal gue berganti lagi, menjadi potongan lirik yang seolah mengalir dari pengalaman sehari-hari:
“Akankah ada hari yang paling bahagia, di saat dunia berputar searah kisah, kita merubah cerita, dimana di sana kau dekapku sekuatnya…”
Potongan itu terasa seperti narasi reflektif, memadukan rasa canggung, belajar, dan sedikit manisnya kebahagiaan sederhana—mengingatkan gue bahwa menghormati kadang berarti memberi ruang agar orang lain tetap utuh.
Di stasiun berikutnya, terngiang lagi potongan lain:
“Tak jarang kau menangis dipelukku, hingga sempat ku mengira aku lah rumah bagimu… Nyatanya ku keliru, kau datang hanya untuk bertamu.”
Lirik itu jadi provokasi halus di kepala gue: niat baik gue bisa salah tafsir, seperti salah tafsir budaya, tapi itu bukan kesalahan besar—ini pelajaran untuk lebih memahami dan menghargai perspektif orang lain.
Pernah nggak lo ngalamin culture shock kayak gini? Kadang, hal kecil yang kita kira sopan justru punya makna terbalik, dan justru bikin kita belajar cara menghormati yang lebih dalam. Dalam diam, kita bisa merasakan kebahagiaan sederhana: memberi ruang agar orang lain tetap utuh.
Referensi lagu yang digunakan sebagai inspirasi soundtrack internal cerita ini:


























































Komentar