Genre Musik dan Kepribadian: Benarkah Selera Musik Menunjukkan Karakter?
- HP Music
- 3 jam yang lalu
- 9 menit membaca

Apakah Genre Musik Menentukan Kepribadian? Kenapa Selera Musik Setiap Orang Berbeda
Baru tiga lagu lewat.
Yang pertama K-pop. Yang kedua Metal. Yang ketiga Dangdut lawas yang bass-nya bikin pintu mobil ikut bergetar.
Teman di sebelah lo langsung senyum.
“Oke. Gue sudah tahu tipe lo.”
Wuih. Cepat juga.
Belum tahu cara lo memperlakukan orang. Belum tahu apa yang bikin lo takut, apa yang lo bela, atau kenapa kadang lo menghilang dari grup chat tiga hari.
Tapi baru lihat playlist, profil kepribadian sudah jadi.
Kita sering melakukan itu. Pendengar Jazz dianggap intelek. Anak Metal dibayangkan agresif. Fans K-pop disebut terlalu fanatik. Pendengar Pop dinilai aman. Dangdut masih sering ditempeli kelas sosial tertentu.
Masalahnya, apakah tebakan itu punya dasar?
Atau kita cuma membaca stereotip yang selama ini menempel pada orang-orang di sekitar musiknya?
Playlist bisa memberi petunjuk. Tapi ia bukan sidik jari kepribadian.
✦ ✦ ✦
Ketika Ilmuwan Mencoba Membaca Manusia dari Koleksi Musiknya
Awal 2000-an, psikolog Peter Rentfrow dan Samuel Gosling mencoba membongkar pertanyaan yang kelihatannya sederhana: apakah musik yang kita sukai menyimpan jejak tentang diri kita?
Penelitian mereka ikut membuka jalur besar dalam psikologi musik. Preferensi musik dikelompokkan ke dalam beberapa dimensi luas, lalu dibandingkan dengan karakter, nilai, dan cara seseorang melihat dirinya. Ringkasan dari American Psychological Association menunjukkan bahwa memang ada hubungan tertentu antara preferensi musik dan beberapa sifat kepribadian.
Menarik.
Tapi jangan buru-buru bikin jasa ramal karakter berdasarkan Spotify Wrapped.
Plot twist-nya datang ketika penelitian yang lebih banyak mulai dikumpulkan. Sebuah meta-analisis pada 2017 merangkum 28 studi dan menemukan bahwa sebagian besar hubungan antara sifat kepribadian dan preferensi gaya musik ternyata sangat kecil. Sifat yang paling konsisten muncul adalah openness to experience, keterbukaan terhadap pengalaman baru, tetapi pengaruhnya pun tetap terbatas.
Jadi sains tidak bilang hubungan itu palsu.
Sains bilang: hubungannya ada, tetapi manusia jauh lebih rumit daripada daftar genre favoritnya.
Selera punya jejak.
Bukan vonis.
✦ ✦ ✦
Masalah Pertamanya: Genre Terlalu Besar untuk Membaca Seseorang
Coba ambil satu kata: Rock.
Di dalamnya ada lagu yang kasar, lembut, teatrikal, minimal, politis, romantis, teknis, sampai yang cocok diputar sambil bengong melihat hujan.
Metal juga begitu. Pop apalagi. Jazz bahkan bisa membuat dua orang bertengkar hanya untuk menentukan satu rekaman masih Jazz atau sudah pindah rumah.
Jadi ketika penelitian hanya bertanya, “Lo suka Rock atau nggak?”, banyak detail yang hilang.
Karena mungkin yang lo suka bukan label Rock-nya.
Mungkin lo suka:
energinya,
distorsi gitarnya,
liriknya,
ketegangan harmoninya,
suara penyanyinya,
atau memori yang kebetulan tinggal di dalam lagu itu.
Penelitian tentang struktur preferensi musik kemudian mencoba melihat selera bukan cuma dari nama genre, tetapi dari karakter musik seperti kelembutan, intensitas, kompleksitas, energi, dan respons emosional pendengar.
Ini lebih masuk akal.
Karena dua orang bisa sama-sama bilang suka Jazz, tetapi yang satu mencari ruang tenang, sementara yang lain mengejar harmoni yang bikin otaknya diajak lari.
Nama genrenya sama.
Yang dicari berbeda.
✦ ✦ ✦
Mungkin yang Terbaca Bukan Kepribadian, tetapi Cara Pikiran Lo Menikmati Musik
Pada 2015, David Greenberg dan timnya menguji ribuan peserta untuk melihat hubungan antara preferensi musik dan gaya kognitif.
Dalam penelitian tentang musik dan cognitive styles, orang yang lebih condong pada empati cenderung menyukai musik yang lembut, hangat, reflektif, atau emosional. Sementara orang yang lebih tertarik pada sistem dan pola lebih sering menyukai musik yang intens, kompleks, kuat, atau menantang secara struktur.
Tapi hasil itu tetap korelasi.
Bukan berarti semua pendengar Soul penuh empati.
Bukan juga berarti semua anak Progressive Metal diam-diam sedang menghitung struktur jembatan.
Yang menarik justru ini:
Kita mungkin tidak hanya memilih musik berdasarkan siapa diri kita. Kita juga memilih berdasarkan bagian mana dari pikiran kita yang ingin dipakai pada saat itu.
Kadang kita ingin merasa.
Kadang ingin menganalisis.
Kadang ingin berisik.
Kadang ingin satu lagu mematikan suara lain di kepala.
Manusia yang sama bisa membutuhkan semuanya.

✦ ✦ ✦
Dua Orang Bisa Menyukai Lagu yang Sama untuk Alasan yang Berlawanan
Ini bagian yang sering hilang ketika internet sibuk membuat daftar:
“Suka Jazz berarti pintar.”
“Suka Metal berarti pemberontak.”
“Suka Pop berarti ekstrovert.”
Konten seperti itu enak dibaca lima menit. Setelah itu gunanya kira-kira setara ramalan zodiak yang memakai headphone.
Dalam sebuah diary study tentang alasan manusia mendengarkan musik, Thomas Schäfer menemukan bahwa preferensi juga tumbuh dari fungsi yang diberikan musik dalam hidup seseorang.
Musik dipakai untuk mengatur mood, menurunkan atau menaikkan energi, membantu kesadaran diri, menemani situasi tertentu, dan menjaga hubungan sosial.
Artinya, lagu yang sama bisa melakukan pekerjaan berbeda.
Seseorang memutar Metal untuk menaikkan adrenalin sebelum bekerja.
Orang lain memutarnya untuk tenang karena intensitas musiknya terasa seimbang dengan isi kepala.
Seseorang mendengar lagu sedih supaya tenggelam.
Yang lain mendengar lagu yang sama supaya akhirnya bisa naik ke permukaan.
Jadi pertanyaan yang lebih berguna bukan:
“Genre apa yang menggambarkan kepribadian lo?”
Tapi:
“Pekerjaan apa yang dilakukan musik ini di dalam hidup lo?”
✦ ✦ ✦
Selera Musik Juga Dibentuk oleh Siapa yang Duduk di Sebelah Lo
Bayangin lo tumbuh di rumah yang setiap Minggu pagi memutar lagu lama.
Kakak lo mengenalkan Punk.
Teman sekolah membawa Hip Hop.
Orang yang pernah lo suka mengirim satu lagu Indie yang akhirnya tinggal dua puluh tahun di kepala.
Lalu platform streaming terus mempertemukan lo dengan lagu yang punya pola serupa.
Masih yakin semuanya lahir murni dari kepribadian?
Sebuah studi lintas negara tentang budaya, kondisi sosial, pertemanan, dan preferensi musik menunjukkan bahwa selera juga berkaitan dengan lingkungan sosial. Terutama pada remaja dan dewasa muda, musik sering berfungsi sebagai tanda kelompok, cara menemukan teman, dan bahasa untuk menyatakan identitas.
Di tongkrongan musik, selera kadang bekerja seperti kartu nama.
Kaos band.
Patch di tas.
Playlist yang sengaja dibuka ketika ada orang tertentu.
Bahkan cara seseorang bilang, “Gue nggak dengerin musik mainstream,” juga sedang mengatakan sesuatu.
Bukan hanya tentang musik.
Tentang posisi yang ingin ia ambil di dalam ruangan.
✦ ✦ ✦
“Gue Suka Metal” dan “Gue Anak Metal” Itu Beda
Yang pertama adalah preferensi.
Yang kedua adalah identitas.
Begitu genre masuk ke identitas, kritik terhadap musik bisa terasa seperti kritik terhadap diri sendiri.
Makanya perdebatan musik sering lebih panas daripada topiknya.
Orang tidak sedang membela empat menit suara.
Mereka membela masa muda, teman, tempat, gaya hidup, dan versi dirinya yang dibangun bersama musik itu.
Di sinilah genre bisa menjadi rumah.
Tapi rumah juga bisa berubah menjadi pagar.
Bayangin lo begitu mencintai satu pemain sampai ketika rival besarnya berdiri di depan dan menawarkan foto, lo menolak. Bukan karena momennya tidak berharga. Tapi karena identitas yang lo jaga terlalu sempit untuk menerima kesempatan itu.
Lima menit kemudian, baru terasa:
“Anjir. Tadi gue ngapain?”
Musik bisa bekerja seperti itu.
Kecintaan pada satu genre seharusnya memperluas telinga.
Bukan membutakannya.
Genre seharusnya membantu lo menemukan musik. Bukan menjadi sekuriti yang menolak semua suara baru di pintu.
✦ ✦ ✦
Ketika Lo Bilang K-pop Norak, Sebenarnya Lo Sedang Menilai Apa?
Bisa jadi musiknya memang tidak cocok.
Wajar.
Tidak semua karya harus lolos ke telinga semua orang.
Tapi coba bedah alasannya.
Apakah yang lo tidak suka:
melodinya,
produksinya,
bahasanya,
visualnya,
fanbase-nya,
atau citra orang yang lo bayangkan sebagai pendengarnya?
Sebuah studi mendalam tentang alasan orang membenci musik menemukan bahwa ketidaksukaan tidak hanya diarahkan pada komposisi atau lirik. Orang juga bisa menolak karena artis, penampilan, konteks, bahkan orang-orang yang dianggap mendengarkan musik tersebut.
Nah.
Berarti kadang kita tidak sedang menolak suara.
Kita sedang menolak kelompok sosial yang menempel di sekitarnya.
Lo boleh menganggap kemasan K-pop terlalu ramai. Tapi kalau kritik berhenti di kata norak, ada kemungkinan lo melewatkan satu hal penting: cara mereka menyatukan musik, koreografi, visual, styling, produksi, dan pengalaman fans sebagai satu paket kerja.
Mungkin lo tetap nggak suka.
Nggak masalah.
Tapi sekarang lo menolak setelah melihat.
Bukan sebelum masuk pintu.
✦ ✦ ✦
Metal Tidak Otomatis Membuat Orang Agresif. Jazz Tidak Otomatis Membuat Orang Pintar
Stereotip genre sering terdengar meyakinkan karena diulang terlalu lama.
Metal keras, berarti pendengarnya keras.
Musik klasik kompleks, berarti pendengarnya cerdas.
Pop mudah dinikmati, berarti dangkal.
Dangdut dekat dengan pesta rakyat, lalu dianggap rendah.
Padahal karakter suara tidak bisa langsung dipindahkan menjadi karakter manusia.
Dalam penelitian Extreme Metal Music and Anger Processing, pendengar musik ekstrem yang sedang marah tidak otomatis menjadi semakin marah setelah mendengarkan musik pilihannya. Bagi penggemarnya, musik tersebut justru dapat sesuai dengan tingkat energi emosional mereka dan membantu proses pengolahan emosi.
Itu bukan bukti Metal selalu sehat untuk semua situasi.
Itu bukti bahwa hubungan manusia dan musik tidak sesederhana volume keras sama dengan karakter kasar.
Begitu juga genre lain.
Selera bisa memberi petunjuk kecil.
Stereotip memberi jawaban besar dengan bukti kecil.
Different class.
✦ ✦ ✦
Kenapa Ada Lagu yang Langsung Masuk, Sementara yang Lain Butuh Waktu?
Kepribadian bukan satu-satunya permainan.
Otak juga menikmati keseimbangan antara sesuatu yang bisa ditebak dan sesuatu yang mengejutkan.
Sebuah penelitian PNAS tentang proses prediktif dan preferensi musik menunjukkan bahwa kenikmatan musik berkaitan dengan keseimbangan antara prediktabilitas dan ketidakpastian.
Terlalu mudah ditebak, sebagian orang bosan.
Terlalu asing, otak belum punya pegangan.
Di tengah-tengahnya ada ruang menarik.
Chorus-nya masih bisa lo ikuti.
Tapi ada satu chord, satu beat, atau satu suara yang menggeser lantai sedikit.
Orang berbeda punya titik nyaman yang berbeda.
Musisi biasanya punya toleransi lain terhadap kompleksitas dibanding pendengar yang tidak terbiasa. Orang yang sering menjelajah musik juga punya referensi lebih luas untuk memahami suara asing.
Jadi kadang lo tidak membenci sebuah genre.
Lo cuma belum punya pintu masuknya.
✦ ✦ ✦
Bisakah Algoritma Membaca Kepribadian dari Playlist?
Sampai batas tertentu, mesin bisa menemukan pola.
Pada 2023, sebuah studi tentang preferensi musik dan nilai moral menganalisis pilihan artis, lirik, dan karakter audio dari lagu favorit peserta. Model yang menggabungkan unsur lirik dan suara dapat menangkap beberapa pola nilai lebih baik daripada model yang hanya memakai informasi demografis dasar.
Wuih. Kedengarannya playlist bisa bongkar isi kepala.
Belum sejauh itu.
Model statistik membaca kecenderungan kelompok.
Ia tidak tahu kenapa lagu tertentu membuat lo berhenti di pinggir jalan.
Ia tidak tahu siapa yang mengirim lagu itu pertama kali.
Ia tidak tahu bahwa satu lagu Pop yang terdengar biasa bagi orang lain adalah suara terakhir yang lo dengarkan bersama seseorang.
Mesin bisa membaca pola. Tapi makna masih tinggal di pengalaman manusia.

✦ ✦ ✦
Coba Baca Playlist Lo Sendiri, Tapi Jangan Sok Jadi Psikolog
Buka playlist yang paling personal.
Bukan playlist buat pamer taste. Yang benar-benar lo putar ketika tidak ada orang.
Pilih lima lagu:
satu lagu yang membuat lo merasa kuat,
satu lagu yang selalu muncul ketika hidup berantakan,
satu lagu dari masa remaja,
satu lagu yang agak malu lo akui suka,
dan satu lagu baru yang belakangan bikin penasaran.
Sekarang jangan tanya dulu genre-nya.
Tanya:
Siapa yang mengenalkan lagu ini?
Situasi apa yang membuatnya terus diputar?
Bagian mana yang sebenarnya lo cari: lirik, suara, energi, atau memori?
Apakah lo menyukainya karena musiknya, atau karena versi diri yang tinggal di dalamnya?
Kalau lagu ini dilepas dari cover, artis, fanbase, dan reputasinya, apakah lo masih suka?
Jawabannya mungkin tidak memberi hasil tipe kepribadian empat huruf.
Bagus.
Manusia bukan formulir onboarding.
Tapi mungkin lo akan melihat sesuatu yang lebih berguna:
pola kebutuhan, pengalaman, lingkungan, dan cara lo memakai musik untuk menjalani hidup.
✦ ✦ ✦
HP Music Perspective: Playlist Adalah Cermin yang Bergerak
Menurut HP Music, selera musik bukan tes kepribadian.
Ia lebih mirip arsip hidup yang terus diedit.
Di dalamnya ada karakter.
Tapi juga ada keluarga, teman, kota, teknologi, cinta, kehilangan, rasa malu, fase hidup, dan rekomendasi yang kebetulan datang pada waktu tepat.
Kadang playlist menunjukkan siapa diri kita.
Kadang menunjukkan siapa yang ingin kita tampilkan.
Kadang menunjukkan siapa yang pernah kita cintai.
Dan kadang hanya menunjukkan bahwa Selasa sore itu kita butuh drum yang lebih keras.
Playlist adalah petunjuk. Bukan sidik jari.
Jadi lain kali seseorang mencoba membaca seluruh karakter lo dari tiga lagu, santai saja.
Mungkin ada sedikit hal yang ia tangkap.
Mungkin juga ia sedang melihat bayangan dirinya sendiri.
Pertanyaan yang lebih menarik bukan:
“Genre apa yang paling menggambarkan gue?”
Tapi:
“Kenapa musik ini memilih tinggal di hidup gue, sementara ribuan lagu lain lewat begitu saja?”
Dan dari situ, pembicaraan soal genre baru benar-benar mulai.
Untuk memahami peta besarnya, lanjutkan ke panduan HP Music tentang Genre Musik, lengkap dengan jenis, karakter, dan jalur perkembangan berbagai genre.
✦ ✦ ✦
Frequently Asked Questions
Apakah genre musik menentukan kepribadian seseorang?
Tidak secara langsung. Penelitian menemukan beberapa hubungan kecil antara sifat kepribadian dan preferensi musik, tetapi korelasinya umumnya terlalu lemah untuk menentukan karakter seseorang hanya dari genre favoritnya.
Apakah playlist bisa menunjukkan kepribadian?
Playlist dapat memberi petunjuk tentang preferensi, mood, nilai, pengalaman, dan cara seseorang memakai musik. Namun playlist tidak cukup untuk menjadi alat diagnosis atau gambaran lengkap kepribadian.
Genre musik apa yang disukai orang introvert?
Tidak ada satu genre khusus untuk introvert. Orang dengan sifat serupa tetap dapat menyukai musik yang sangat berbeda karena usia, budaya, lingkungan, pengalaman, fungsi musik, dan kebiasaan mendengarkan.
Apakah orang yang suka Metal lebih agresif?
Tidak otomatis. Suara yang keras tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi sifat kasar. Pada penggemarnya, musik ekstrem bahkan dapat digunakan untuk menyelaraskan dan mengolah emosi yang intens.
Kenapa selera musik setiap orang berbeda?
Selera musik dipengaruhi kombinasi karakter pribadi, pengalaman hidup, keluarga, teman, budaya, usia, tingkat familiaritas, fungsi musik, dan jenis suara yang terasa menarik bagi otak.
Kenapa kita membenci genre musik tertentu?
Alasannya bisa berasal dari musik, lirik, suara artis, penampilan, pengalaman buruk, citra fanbase, atau identitas sosial yang menempel pada genre tersebut. Jadi yang ditolak belum tentu hanya bunyinya.
Apakah musik bisa mengubah kepribadian?
Bukti yang ada lebih kuat untuk menunjukkan hubungan dan penggunaan musik dalam mengatur emosi, identitas, dan perilaku situasional. Belum ada dasar kuat untuk mengatakan satu genre tertentu secara langsung mengubah kepribadian seseorang.
Apakah selera musik berubah seiring usia?
Bisa. Pengalaman baru, perubahan lingkungan, hubungan sosial, tanggung jawab, paparan musik, dan fungsi yang kita butuhkan dari musik dapat mengubah preferensi sepanjang hidup.
✦ ✦ ✦
References & Further Reading
American Psychological Association:
Schäfer & Mehlhorn:
Rentfrow, Goldberg, dan Levitin:
Greenberg et al.:
Schäfer:
The Goals and Effects of Music Listening and Their Relationship to the Strength of Music Preference.
Liu et al.:
Ackermann et al.:
Sharman & Dingle:
Mas-Herrero et al.:
Preniqi, Kalimeri, dan Saitis:
✦ ✦ ✦

























































Komentar