Fenomena Groupie
- HP Music
- 20 Sep 2025
- 3 menit membaca
Diperbarui: 7 Okt 2025
Fenomena Groupie: Dari Sex, Drugs & Rock n’ Roll Hingga Era Instagram

Dunia musik selalu punya cerita di balik panggung. Ada tawa, ada drama, ada juga kisah yang jarang dibicarakan di depan umum: groupie. Fenomena ini sudah ada sejak era rock n’ roll, berkembang jadi subkultur, hingga kini menemukan bentuk barunya di media sosial.
Tapi, apa sebenarnya groupie itu?
Apa Itu Groupie?
Secara sederhana, groupie adalah penggemar fanatik yang menjalin kedekatan lebih dari sekadar penonton konser. Mereka hadir di belakang panggung, mengikuti tur, bahkan menjalin hubungan pribadi dengan musisi idolanya.
Istilah ini mulai populer di Amerika Serikat dan Inggris pada akhir 1960-an, saat musik rock sedang meledak di seluruh dunia. Slogannya jelas: “Sex, Drugs, and Rock n’ Roll.”
Sejarah Groupie: Dari Backstage ke Subkultur
The GTOs – Groupie yang Jadi Band
Fenomena groupie pertama yang “resmi” lahir lewat The GTOs (Girls Together Outrageously), sekelompok perempuan di Los Angeles yang dibentuk oleh musisi eksperimental Frank Zappa. Mereka bukan sekadar penggemar pasif, tapi tampil di panggung, rekaman, bahkan merilis album.
The GTOs membuktikan kalau groupie juga bisa jadi bagian dari kultur musik itu sendiri.
Pamela Des Barres – Sang Ikon Groupie
Nama Pamela Des Barres mungkin yang paling sering disebut kalau bicara soal groupie. Ia menulis buku legendaris “I’m With the Band: Confessions of a Groupie” (1987), yang menceritakan pengalamannya bersama musisi besar seperti Jimmy Page (Led Zeppelin), Mick Jagger (The Rolling Stones), hingga Jim Morrison (The Doors).
Pamela melihat dirinya bukan sekadar “pendamping musisi”, tapi bagian dari sejarah rock n’ roll itu sendiri.
John Lennon & Yoko Ono – Ketika Batas Musisi & Penggemar Kabur
Meski Yoko Ono bukan groupie dalam arti klasik, kisah cintanya dengan John Lennon sering dijadikan contoh bagaimana hubungan antara penggemar dan musisi bisa mengubah sejarah musik.
Awalnya Yoko adalah seniman avant-garde yang kagum dengan The Beatles. Pertemuannya dengan Lennon berkembang menjadi kisah cinta ikonik—meski penuh kontroversi. Hubungan ini menunjukkan bagaimana penggemar bisa masuk ke lingkaran pribadi musisi dan memberi pengaruh besar dalam perjalanan kariernya.
Groupie sebagai Subkultur
Di era 60–70an, groupie bukan hanya “penggemar setia”, tapi bagian dari gaya hidup:
Fashion: bohemian, glam rock, busana nyentrik yang jadi tren.
Lifestyle: ikut tur dari kota ke kota, jadi bagian dari rombongan band.
Ideologi: simbol kebebasan cinta (free love) di tengah revolusi budaya hippie.
Dengan kata lain, groupie berkembang jadi subkultur musik yang punya ciri khas sendiri.
Fenomena Groupie di Indonesia
Meski tidak seikonik di Barat, fenomena ini juga ada di Indonesia. Sejak era kejayaan band 90-an hingga 2000-an, cerita tentang penggemar fanatik yang rela mengikuti tur, nongkrong di backstage, atau membangun kedekatan personal dengan musisi, sudah jadi “rahasia umum”.
Namun, berbeda dengan luar negeri, di Indonesia fenomena ini lebih tertutup. Groupie hadir, tapi jarang diakui secara terbuka.
Era Digital: Groupie 2.0
Kalau dulu groupie identik dengan pintu backstage atau hotel, kini semua bergeser ke dunia digital. Akses ke musisi makin mudah, bahkan instan:
Instagram DM & Twitter (X): jalan pintas untuk berinteraksi langsung.
TikTok & Live Streaming: fans bisa nongkrong bareng idola secara virtual.
Fanbase Online: groupie modern bisa jadi admin fanbase, kreator konten, atau “teman virtual” musisi.
Fenomena groupie versi digital lebih cair, lebih terbuka, dan lebih global. Kedekatan yang dulu harus dikejar di panggung tur, kini bisa dibangun lewat layar smartphone.
Dari Masa ke Masa
Fenomena groupie membuktikan satu hal: musik tidak hanya soal lagu, tapi juga tentang magnet emosional yang bisa menarik penggemar ke level yang sangat personal.
Dari konser Led Zeppelin di tahun 70-an, kisah cinta John Lennon & Yoko Ono, hingga interaksi cepat via Instagram di 2025—groupie selalu ada. Wujudnya berubah, tapi daya tariknya tetap sama: keinginan untuk lebih dekat dengan idola.
Dan mungkin, selama musik terus dimainkan, fenomena groupie tidak akan pernah benar-benar hilang.


























































Komentar