The Beatles & Penemuan ADT: Revolusi Suara dari Abbey Road
- HP Music
- 2 Nov 2025
- 4 menit membaca
London, 1966.
Hujan tipis turun di luar Abbey Road Studios, sementara di dalamnya udara hangat dan beraroma pita magnetik terbakar. Mesin-mesin tape berdengung seperti makhluk hidup.

Empat anak muda dari Liverpool sedang menulis ulang aturan musik modern — tanpa benar-benar menyadarinya.
Di ruang kontrol, John Lennon berdiri di depan mikrofon, merekam vokal untuk lagu barunya, “Tomorrow Never Knows.” Saat mendengar hasilnya, ia bersandar dan berkata kepada produsernya, George Martin,
“I don’t want my voice to sound like me. I want it to sound like the Dalai Lama chanting from a mountaintop.”
Permintaan itu kedengaran aneh, bahkan bagi standar The Beatles.Namun inilah era ketika musik dan teknologi mulai menari bersama. Tahun 1966, The Beatles sudah berhenti tur dan mulai menjadikan studio sebagai instrumen mereka. Dunia sedang berubah — dari LSD hingga kebebasan artistik — dan mereka ingin merekam bukan hanya lagu, tapi suara masa depan.
Di Balik Pintu Studio Abbey Road
Masalahnya sederhana: Lennon benci mengulang vokal demi efek “double”. Biasanya, produser akan meminta penyanyi menyanyikan bagian yang sama dua kali — teknik yang disebut double tracking. Tapi Lennon ingin cara yang lebih cepat.
“Can’t you make the machine do it for me?” katanya, setengah bercanda.
Teknisi muda Ken Townsend mendengarnya — dan menjadikan lelucon itu tantangan serius. Malam itu, saat perjalanan pulang, sebuah ide muncul di kepalanya:
“What if two tape machines could sing together?”
Keesokan harinya, ia bereksperimen di studio. Ia menyambungkan dua tape recorder, satu memutar vokal asli Lennon, satu lagi menyalinnya dengan kecepatan sedikit berbeda.Ketika kedua mesin itu dimainkan bersamaan, suara Lennon terdengar seperti melayang, bergema, dan berputar di udara.
Ketika Lennon mendengar hasilnya, ia tersenyum puas.
“It’s like magic,” katanya.
Dan di situlah Automatic Double Tracking (ADT) lahir — sebuah teknik baru yang kemudian berkembang menjadi efek flanging.🎬 Watch: The ADT Story with Ken Townsend
Revolusi dari Dalam Studio
Efek itu pertama kali digunakan dalam “Tomorrow Never Knows,” lagu penutup album legendaris Revolver (1966).Suara Lennon terdengar seperti datang dari dunia lain, mengambang di atas loop drum, sitar terbalik, dan tekstur elektronik yang belum pernah terdengar sebelumnya. Dunia musik terkejut.
Menurut catatan resmi dari Abbey Road Studios, Townsend menciptakan efek ini hanya untuk memenuhi keinginan Lennon — tapi hasilnya menjadi revolusi studio.
Bahkan, produser George Martin bercanda menjelaskan kepada Lennon bahwa efek itu dibuat oleh “a double-bifurcated sploshing flange.” Lennon menyukai istilah itu — dan begitulah lahirnya istilah flanging yang kini dikenal di seluruh dunia.Sumber: Waves Audio – Behind Abbey Road ADT
Dari Eksperimen Menjadi Konstruksi Musik Dunia
Yang dulu dilakukan dengan dua mesin tape kini bisa dilakukan dengan satu klik. Plugin seperti Waves Reel ADT meniru teknik asli yang ditemukan di Abbey Road.Tapi semangatnya teta sama: menambahkan kedalaman, ruang, dan kehidupan pada vokal atau instrumen.
Meski tak selalu disebut “ADT,” prinsipnya hidup dalam banyak rekaman modern:
Lorde – “Writer in the Dark” (album Melodrama): vokalnya dilapis berkali-kali, menghasilkan efek seperti dua versi dirinya bernyanyi bersama. (Wikipedia – Melodrama (Lorde album))
Beyoncé – “I Care”: vokal utamanya di-double dengan variasi tekstur dan delay untuk menghasilkan perasaan emosional yang intens. (Wikipedia – I Care (Beyoncé song))
Dua Lipa & Caroline Polachek: dalam wawancara dengan produser vokal Cameron Gower Poole, dijelaskan bahwa efek layering dan “sculpted doubling” sering digunakan untuk menciptakan dimensi vokal yang luas — keturunan langsung dari prinsip ADT.
🎧 Mau mendengar efek serupa? Coba perhatikan bagian vokal pada “Levitating” oleh Dua Lipa atau “Solar Power” oleh Lorde — sensasi suara yang “menyebar” dan “mengambang” itu berasal dari teknik turunan ADT.
Yang dulu dilakukan dengan dua mesin tape kini bisa dilakukan dengan satu klik. Plugin seperti Waves Reel ADT meniru teknik asli yang ditemukan di Abbey Road.Tapi semangatnya tetap sama: menambahkan kedalaman, ruang, dan kehidupan pada vokal atau instrumen.
Meski tak selalu disebut “ADT,” prinsipnya hidup dalam banyak rekaman modern:
Lorde – “Writer in the Dark” (album Melodrama): vokalnya dilapis berkali-kali, menghasilkan efek seperti dua versi dirinya bernyanyi bersama. (Wikipedia – Melodrama (Lorde album))
Beyoncé – “I Care”: vokal utamanya di-double dengan variasi tekstur dan delay untuk menghasilkan perasaan emosional yang intens. (Wikipedia – I Care (Beyoncé song))
Dua Lipa & Caroline Polachek: dalam wawancara dengan produser vokal Cameron Gower Poole, dijelaskan bahwa efek layering dan “sculpted doubling” sering digunakan untuk menciptakan dimensi vokal yang luas — keturunan langsung dari prinsip ADT.
🎧 Mau mendengar efek serupa? Coba perhatikan bagian vokal pada “Levitating” oleh Dua Lipa atau “Solar Power” oleh Lorde — sensasi suara yang “menyebar” dan “mengambang” itu berasal dari teknik turunan ADT.
Kenapa HPmusic.id Menulis Kisah Ini
Di HPmusic.id, kami percaya bahwa sejarah seperti ini bukan sekadar nostalgia — tapi fondasi dari konstruksi musik dunia.Kisah tentang Ken Townsend dan The Beatles adalah contoh bagaimana kreativitas, teknologi, dan keberanian bereksperimen bisa melahirkan arah baru bagi musik.
Melestarikan cerita-cerita seperti ini berarti menjaga semangat pencarian itu tetap hidup — agar generasi musisi dan pendengar berikutnya tahu bahwa setiap tombol yang diputar, setiap ide yang “tak masuk akal,” bisa menjadi langkah kecil menuju revolusi berikutnya.
Musik tidak hanya terdengar; ia berevolusi. Dan terkadang, semua itu dimulai dari seorang teknisi yang mencoba membuat hidup sedikit lebih mudah bagi vokalis yang tidak mau menyanyi dua kali.

























































Komentar