top of page

Jika Anda Memiliki Karya dan Talenta Bergabung lah Bersama HP Music

Mari Saling Menginspirasi dan Menciptakan Karya Musik yang Memukau. Bersama, Kita Bisa Membawa Musik Kita ke Tingkat Selanjutnya. Tidak Ada Batas untuk Kreativitas Bersama HP Music. Segera Bergabung dan Jadilah Bagian dari Komunitas Musik yang Berkembang Pesat!"

TALENT

MENDAFTAR TALENT

DROP DEMO

DROP DEMO

TITIP EDAR
LAGU ORIGINAL

LAGU ORGINAL

TITIP EDAR
LAGU COVER

cover

The Beatles & Penemuan ADT: Revolusi Suara dari Abbey Road

London, 1966.

Hujan tipis turun di luar Abbey Road Studios, sementara di dalamnya udara hangat dan beraroma pita magnetik terbakar. Mesin-mesin tape berdengung seperti makhluk hidup.


The Beatles & Penemuan ADT: Revolusi Suara dari Abbey Road

Empat anak muda dari Liverpool sedang menulis ulang aturan musik modern — tanpa benar-benar menyadarinya.


Di ruang kontrol, John Lennon berdiri di depan mikrofon, merekam vokal untuk lagu barunya, “Tomorrow Never Knows.” Saat mendengar hasilnya, ia bersandar dan berkata kepada produsernya, George Martin,

“I don’t want my voice to sound like me. I want it to sound like the Dalai Lama chanting from a mountaintop.”

Permintaan itu kedengaran aneh, bahkan bagi standar The Beatles.Namun inilah era ketika musik dan teknologi mulai menari bersama. Tahun 1966, The Beatles sudah berhenti tur dan mulai menjadikan studio sebagai instrumen mereka. Dunia sedang berubah — dari LSD hingga kebebasan artistik — dan mereka ingin merekam bukan hanya lagu, tapi suara masa depan.



Di Balik Pintu Studio Abbey Road

Masalahnya sederhana: Lennon benci mengulang vokal demi efek “double”. Biasanya, produser akan meminta penyanyi menyanyikan bagian yang sama dua kali — teknik yang disebut double tracking. Tapi Lennon ingin cara yang lebih cepat.

“Can’t you make the machine do it for me?” katanya, setengah bercanda.

Teknisi muda Ken Townsend mendengarnya — dan menjadikan lelucon itu tantangan serius. Malam itu, saat perjalanan pulang, sebuah ide muncul di kepalanya:

“What if two tape machines could sing together?”

Keesokan harinya, ia bereksperimen di studio. Ia menyambungkan dua tape recorder, satu memutar vokal asli Lennon, satu lagi menyalinnya dengan kecepatan sedikit berbeda.Ketika kedua mesin itu dimainkan bersamaan, suara Lennon terdengar seperti melayang, bergema, dan berputar di udara.


Ketika Lennon mendengar hasilnya, ia tersenyum puas.

“It’s like magic,” katanya.

Dan di situlah Automatic Double Tracking (ADT) lahir — sebuah teknik baru yang kemudian berkembang menjadi efek flanging.🎬 Watch: The ADT Story with Ken Townsend



Revolusi dari Dalam Studio

Efek itu pertama kali digunakan dalam “Tomorrow Never Knows,” lagu penutup album legendaris Revolver (1966).Suara Lennon terdengar seperti datang dari dunia lain, mengambang di atas loop drum, sitar terbalik, dan tekstur elektronik yang belum pernah terdengar sebelumnya. Dunia musik terkejut.


Menurut catatan resmi dari Abbey Road Studios, Townsend menciptakan efek ini hanya untuk memenuhi keinginan Lennon — tapi hasilnya menjadi revolusi studio.


Bahkan, produser George Martin bercanda menjelaskan kepada Lennon bahwa efek itu dibuat oleh “a double-bifurcated sploshing flange.” Lennon menyukai istilah itu — dan begitulah lahirnya istilah flanging yang kini dikenal di seluruh dunia.Sumber: Waves Audio – Behind Abbey Road ADT



Dari Eksperimen Menjadi Konstruksi Musik Dunia

Yang dulu dilakukan dengan dua mesin tape kini bisa dilakukan dengan satu klik. Plugin seperti Waves Reel ADT meniru teknik asli yang ditemukan di Abbey Road.Tapi semangatnya teta sama: menambahkan kedalaman, ruang, dan kehidupan pada vokal atau instrumen.


Meski tak selalu disebut “ADT,” prinsipnya hidup dalam banyak rekaman modern:

  • Lorde – “Writer in the Dark” (album Melodrama): vokalnya dilapis berkali-kali, menghasilkan efek seperti dua versi dirinya bernyanyi bersama. (Wikipedia – Melodrama (Lorde album))

  • Beyoncé – “I Care”: vokal utamanya di-double dengan variasi tekstur dan delay untuk menghasilkan perasaan emosional yang intens. (Wikipedia – I Care (Beyoncé song))

  • Dua Lipa & Caroline Polachek: dalam wawancara dengan produser vokal Cameron Gower Poole, dijelaskan bahwa efek layering dan “sculpted doubling” sering digunakan untuk menciptakan dimensi vokal yang luas — keturunan langsung dari prinsip ADT.

🎧 Mau mendengar efek serupa? Coba perhatikan bagian vokal pada “Levitating” oleh Dua Lipa atau “Solar Power” oleh Lorde — sensasi suara yang “menyebar” dan “mengambang” itu berasal dari teknik turunan ADT.



Yang dulu dilakukan dengan dua mesin tape kini bisa dilakukan dengan satu klik. Plugin seperti Waves Reel ADT meniru teknik asli yang ditemukan di Abbey Road.Tapi semangatnya tetap sama: menambahkan kedalaman, ruang, dan kehidupan pada vokal atau instrumen.

Meski tak selalu disebut “ADT,” prinsipnya hidup dalam banyak rekaman modern:

  • Lorde – “Writer in the Dark” (album Melodrama): vokalnya dilapis berkali-kali, menghasilkan efek seperti dua versi dirinya bernyanyi bersama. (Wikipedia – Melodrama (Lorde album))

  • Beyoncé – “I Care”: vokal utamanya di-double dengan variasi tekstur dan delay untuk menghasilkan perasaan emosional yang intens. (Wikipedia – I Care (Beyoncé song))

  • Dua Lipa & Caroline Polachek: dalam wawancara dengan produser vokal Cameron Gower Poole, dijelaskan bahwa efek layering dan “sculpted doubling” sering digunakan untuk menciptakan dimensi vokal yang luas — keturunan langsung dari prinsip ADT.


🎧 Mau mendengar efek serupa? Coba perhatikan bagian vokal pada “Levitating” oleh Dua Lipa atau “Solar Power” oleh Lorde — sensasi suara yang “menyebar” dan “mengambang” itu berasal dari teknik turunan ADT.



Kenapa HPmusic.id Menulis Kisah Ini

Di HPmusic.id, kami percaya bahwa sejarah seperti ini bukan sekadar nostalgia — tapi fondasi dari konstruksi musik dunia.Kisah tentang Ken Townsend dan The Beatles adalah contoh bagaimana kreativitas, teknologi, dan keberanian bereksperimen bisa melahirkan arah baru bagi musik.


Melestarikan cerita-cerita seperti ini berarti menjaga semangat pencarian itu tetap hidup — agar generasi musisi dan pendengar berikutnya tahu bahwa setiap tombol yang diputar, setiap ide yang “tak masuk akal,” bisa menjadi langkah kecil menuju revolusi berikutnya.


Musik tidak hanya terdengar; ia berevolusi. Dan terkadang, semua itu dimulai dari seorang teknisi yang mencoba membuat hidup sedikit lebih mudah bagi vokalis yang tidak mau menyanyi dua kali.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

​HP Music adalah Record Label yang menaungi berbagai Genre Musik Yuk, eksplor channel YouTube kami:

mighty.png

migthy records

sik-asik.png

sik asik

Klik link untuk menuju Youtube Channel Hepi Kids

hepi kids

popart.png

pop art

plus-plus-remix.png

plus plus
remix

golden-memories.png

Golden Memories indonesia

​​​Belanja merchandise musik di toko kami: Hepi Stuff! ​

Klik sekarang & jadi bagian dari perjalanan musik Indonesia! 

logo-master-HP-stuff-black.png

HP Music
PT Harmoni Dwiselaras Perkasa © 2019

Ruko Harco Mangga Dua, Block J No. 30
Jakarta 10730, Indonesia

hello@hpmusic.id
+62 21 612 2474

bottom of page